Bahasa dan Budaya

I.      Pendahuluan

Berbahasa merupakan kegiatan manusia setiap saat dalam berhubungan dengan orang lain yang dimulai ketika manusia itu melihat dunia. Bayi yang baru lahir misalnya, ketika menangis hingga tertawa adalah bentuk mula berbahasanya Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang lain. Sehingga kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia ketika berhubungan dengan orang lain adalah berbahasa, atau dalam bahasa masyarakat awam adalah bertutur kata. Ini diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya bahasa dalam berpidato, presentasi produk, presentasi ilmiah, berdiplomasi dan lain-lain. Sedangkan berbahasa dalam bentuk non formal bisa dalam bentuk  bercanda, ngerumpi, atau sekedar ngobrol-ngobrol (chating).

Dalam perkembangannya bahasa menjadi ciri dari sebuah kebudayaan. Minimal menjadi pembeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dari sisi penggunaan bahasanya. Bagaimana kita membedakan bahasa Jawa Solo dengan bahasa Jawa Banyumasan. Begitu pula dalam semua bahasa, dan termasuk dalam bahasa Arab. Bagaimana kita membedakan suku-suku di jazirah Arab, antara tamim, nejd, Syiria, Mesir salah satunya yang terpenting adalah dengan mengamati bahasa yang digunakan. Namun dari sisi ilmiah, tentu hal ini harus di kaji lebih dalam lagi. Apalagi kalau kajian ini menyangkut ilmu sosiolinguistik.

Antara berbahasa dan berbudaya nampaknya menunjuk pada proses kreatif bagaimana kita berbahasa sekaligus juga  berbudaya. Lantas sejauh mana bahasa dan budaya saling mempengaruhi? Bahasa Arab yang bagaimanakah yang harusnya diajarkan dalam pengajaran di sekolah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam tulisan ini. Dan pembahasan ini akan dikaitkan dengan sosiolinguistik, khususnya dalam membahas tentang bahasa Arab.

 

  1. II.    Hubungan bahasa dan budaya

Untuk menjelaskan tentang hubungan ini, ada baiknya jika kita memberi batasan yang jelas tentang apakah itu bahasa dan apakah budaya itu. Ini untuk mempertegas keterkaitan antar keduanya.

  1. 1.     Bahasa

Banyak pakar yang memberikan batasan tentang bahasa dari berbagai sisinya. Abdul Khaer dengan mengutip Kridalaksana mengatakan bahwa bahasa adalah suatu system lambang bunyi yang arbriter yang digunakan oleh anggota  manusia untuk bekerjasama dengan orang lain, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri[2]. Definisi ini lebih menekankan pada sosok bahasa itu sendiri. Demikian Abdul Khaer mencoba memberi identifikasi dalam definisinya.

Dari definisi ini kemudian diturunkan beberapa batasan yang lain dalam bahasa, yaitu;bahasa sebagai sebuah system dan lambang bunyi, bahasa adalah bunyi yang bermakna, bahasa bersifat arbitrer, konvensional, produktif, unik, universal, dinamis, bervariasi, manusiawi.

Dari batasan dan sifat-sifat bahasa tersebut, maka yang disebut orang yang berbahasa adalah yang memenuhi criteria itu. Dalam kajian bahasa Arab, yang disebut berbahasa adalah pengucapan kata-kata yang tersusun secara teratur sesuai posisi kata dan memberikan pengertian kepada orang lain dan diucapkan dalam keadaan sadar[3]. Ini adalah batasan dalam pengertian nahwiyah. Bagi ahli balaghah berbahasa adalah berbicara secara benar, baik pengucapan maupun artikulasinya,  simple, padat makna ( qalla wa dalla) dan tepat sasaran sesuai dengan situasi dan kondisi yang kemudian dirumuskan dengan fashahah dan baligh.

Dalam kaitan dengan adanya bahasa, apakah bahasa merupakan “satu paket” dari penciptaan Tuhan terhadap manusia ataukah berdiri sendiri, perlu kajian lebih jauh. Yang pasti, bahasa ada sejak manusia ada.

 

  1. 2.     Budaya ( الثقافة / culture[4] )

Definisi budaya banyak diartikan sebagai  sesuatu yang kompleks yang melingkupi kehidupan manusia sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia[5]. Soerjono Sukanto, dengan mengutip E.B. Taylor, mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah ( sesuatu yang, red ) Kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. [6]Dalam kaitan ini budaya sering berkaitan dengan pencapaian dan penciptaan terhadap sebuah karya, baik berupa adat,  kebisaaan, sains, teknologi, seni, agama dan lain sebagainya yang tersimbolkan dalam banyak bentuk. Secara sistematik, unsur-unsur kebudayaan dirumuskan menjadi; system religi dan keagamaan, system organisasi kemasyarakatan, system pengatahuan, bahasa, kesenian, system mata pencaharian, dan system teknologi dan peralatan.[7] Namun secara keseluruhan, budaya adalah produk masyarakat.

Bahasa adalah unsure budaya dari tujuh unsure yang dalam sosiologi disebut sebagai universal culture.[8] Apakah bahasa termasuk dalam salah satu hasil karya manusia, di sinilah signifikansi pengkajian kita kali ini. Dalam kajian mengenai bahasa dan budaya ini, perdebatannya sangat panjang bagi para ahlinya, sehingga tampak bahwa  antara berbahasa dan berbudaya, jika dilihat posisi mana yang mendominsai, maka akan tampak seperti perdebatan antara ayam dan telur.

Kuntjaraningrat, sebagaimana dikutip oleh Abdul Khaer dan Leonia Agustina, menyatakan bahwa kebudayaan memiliki dua ranah yaitu wujud dan isi. Ranah wujud terdiri dari system budaya, system social, dan kebudayaan fisik.[9]

 

  1. III.   Antara berbahasa dan berbudaya

Bahasa menunjukkan budaya. Begitu tesis yang disampaikan oleh Whorf-Sapir. Tesis itu sebetulnya adalah ungkapan Edward Sapir dalam bukunya Language yang terbit tahun 1921[10]. dia menyatakan bahwa sejarah antara bahasa dan budaya memiliki garis yang parallel. Lebih jauh dikatakan bahwa bahasa menentukan pola pikir seseorang[11].

Dalam kehidupan sehari-hari, antara orang yang terbisaa berbahasa santun, maka orang akan langsung menilai bahwa orang itu berbudi baik. Orang yang berbahasa secara intelek dan teratur, maka orang itu dinilai sebagai orang yang berpendidikan, terpelajar dan berilmu.  Begitulah orang menilai orang lain dari cara dia berbahasa.

Mustapha Abdallah Bouchouk bahkan mengemukakan bahwa budaya adalah bahasa itu sendiri. Ini berangkat dari asumsi bahwa mempelajari bahasa dengan sendirinya adalah mempelajari budaya di mana bahasa itu digunakan. Mempelajari bahasa Arab misalnga, maka ia akan mempelajari bagaimana norma dan nilai budaya yang dianut oleh orang Arab yang berbeda dengan orang Indonesia; keterbukaan, keterusterangan, lugas tanpa basa-basi.[12]

Sementara banyak pakar mengemukakan bahwa bahasa  merupakan subordinat dari budaya, di mana bahasa berada di bawah kebudayaan[13]. Dari pendapat ini nampak bahwa bahasa merupakan produk dari kebudayaan. Ini juga akan menimbulkan perdebatan panjang, karena seakan-akan bahasa dipengaruhi oleh budaya yang berkembang. Karena di lain pihak, ada pendapat bahwa antara bahasa dan budaya bersifat koordinatif seperti dikemukakan oleh Sapir dan Worf di atas. Bahasa merupakan produk yang satu paket, di mana adanya manusia sudah satu paket dengan adanya bahasa yang digunakan. Jadi bahasa merupakan perangkat lunak yang menjadi satu dengan diciptakannya manusia. Sementara banyak ahli ortodoks yang menganggap bahasa hanya salah satu penyangga budaya yang tidak penting.[14]

Namun tak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia makin maju sampai sekarang juga tak lepas dari bahasa sebagai alat komunikasi[15]. Komunikasi ini akan mentransformasikan ide, gagasan, dan imajinasi serta refleksi manusia menjadi sesuatu yang berkembang dari masa ke masa menuju arah kesempurnaan. Ini ditandai dengan arah pengembangan teknologi sebagai sarana pembangunan dengan berbasis komunikasi. Komunikasi menjadi symbol kemajuan peradaban saat ini dengan berbagai capaian teknologinya. Ini merambah ke segala lini kehidupan. Bahkan bisnis raksasa menyandarkan kelangsungan usahanya dengan bahasa-bahasa yang harus dikenal oleh korporat untuk, misalnya, promosi dan penguatan basis konsumen.[16] Ini sekaligus menandai bagaimana peran bahasa dalam wilayah ekonomi.

Apapun perdebatan yang terjadi menyangkut posisi masing-masing ( bahasa dan budaya ) namun tesis bahwa ada pengaruh yang erat antar berbahasa dan berbudaya sangat relevan untuk dibahas. Zaki Hassamudin menegaskan bahwa untuk melihat gejala-gejala budaya maka bisa dilihat dari beberapa unsure yang membentuk system budaya tersebut, diantaranya adalah bahasa ini[17]. Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bagaimana orang intelek berbahasa bisa di bandingkan dengan preman jalanan dalam berbahasa. Begitu pula bagaimana cara seorang politisi dan da’i berbahasa, ini sudah menunjukkan adanya kaitan antara bahasa dan budaya.

beberapa tesis menyatakan tentang keterkaitan bahasa dan budaya, antara lain:

  1. bahwa pertumbuhan sebuah budaya tidak akan sempurna tanpa bahasa sebagai perangkat komunikasi utama dan penjaga budaya itu sendiri.
  2. bahwa bahasa merupakan wujud dari kebudayaan itu sendiri
  3. dengan demikian, bahasa memainkan peran yang penting dalam pembentukan masyarakat.[18]

 

Bahasa sebagai alat kebudayaan juga banyak dibahas, misalnya oleh Samsuri,  yang memetakan penggunaan bahasa sebagai instrument budaya dalam empat bidang yaitu bahasa dan sastra, bahasa dan politik, bahasa dan ilmu pengetahuan, bahasa dan pembangunan.[19]

Sementara Levi Strauss, sebagaimana dikutip oleh Darsita, menjelaskan bahwa  bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan dan membedakan kebudayaan dalam tiga hal, yaitu:

  1. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat dianggap sebagai refleksi dari totalitas  kebudayaan masyarakat yang bersangkutan
  2. Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, atau salah satu unsure dari kebudayaan
  3. Bahasa  merupakan kondisi bagi kebudayaan.

Kemudian Darsita menjelaskan poin ketiga, bahwa bahasa yang merupakan kondisi bagi kebudayaan menjadi dua hal, yaitu; pertama, bahasa merupakan kondisi kebudayaan dalam arti yang diakronis, di mana bahasa mendahului kebudayaan. Karena melalui bahasalah manusia menjadi makhluk social yang berkebudayaan dan berperadaban. Kedua, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama untuk membangun kebudayaan, dalam arti bahwa bahasa merupakan fondasi bagi terbentuknya berbagai macam struktur yang kompleks yang sejajar dengan unsure budaya yang lain.[20]

Dengan demikian menjadi jelas bahwa berbahasa memang menunjukkan bagaimana sebuah komunitas atau bangsa berbudaya. Antara berbahasa dan berbudaya menunjukkan hubungan timbal balik. Untuk mempertahankan budaya maka berbahasa menjadi sebuah kelaziman. Demikian juga untuk mempertahankan bahasa, keberlangsungan budaya sangat penting walaupun budaya adalah naluri dari kehidupan manusia itu sendiri sebagai makhluk social.

Bagaimana dengan bahasa Arab yang digunakan di jazirah Arab sana? Sebagai satu system bahasa, Bahasa Arab juga tidak akan jauh berbeda kalau dikaji dengan menggunakan teori-teori linguistic ini. Bahasa Arab tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan budaya, baik ketika bahasa Arab menyebar pertama kali berbarengan dengan menyebarnya ( kekuasaan ) Islam hingga konteks bahasa Arab saat ini.

 

  1. IV.  Bahasa dan Budaya Bangsa  Arab

Bangsa Arab memiliki sejarah panjang yang banyak dikaji sejarahnya oleh para ahli, baik oleh orang Arab sendiri maupun oleh orang luar Arab ( barat dll). Sejarah awal tentang Arab seperti ditulis olah At Thabari, Ibn Ishaq, Husen al Dzahabi sementara dari luar Arab seperti  oleh Montgomery Watt Philip K. Hitti, Bernard Lewis, Karen Amstrong, Ira M Lapidus dll dengan gaya penyampain baik yang provokatif maupun datar.

Sementara itu Bahasa Arab juga merupakan kajian yang menarik, di mana Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun bahasa Semit yang dominant dan masih bertahan sampai sekarang. Bahasa menjadi kajian setelah bangsa Arab mengenal budaya tulis-menulis dalam berbagai karya. Budaya tulis menulis yang berkembang di Arab dimulai setelah kedatangan Islam. Sebelum kedatangan Islam budaya yang berkembang dalam bidang kebahasaan lebih banyak berupa cerita lisan dan hikayat.[21]  Ira M. Lapidus mengemukakan bahwa kultur bahasa Arab merupakan produk dari tiga hal yaitu produk masyarakat perkotaan kelas menengah yang konsen dengan keilmuan Islam, produk loyalitas kesukuan bangsa Arab dan produk penguasa ( istana).[22]

Di atas, sudah dijelaskan tentang adanya ragam bahasa dalam bahasa Arab, mulai dengan fusha dan ‘ammiyah, ragam baku dan non baku, dan sebagainya. Pada zaman pra-Islam, bangsa Arab sudah mengalami kemajuan dalam bidang sastra. Ini ditandai dengan adanya festival sastra Ukaz, di mana pemenangnya akan mendapat kehormatan berupa dipamerkannya karya tersebut di Ka’bah dengan tulisan emas yang kemudian dikenal dengan al-sab’ah al mu’allaqat[23]. Tujuh karya ini merupakan karya terbaik dari para penyair Arab dari berbagai kabilah dan suku. Ini berkembang hingga datangnya Islam, di mana bahasa Alquran kemudian menggunakan bahasa baku yang banyak digunakan pada waktu itu, hingga Khalifah Utsman meresmikan bahasa Quraisy sebagai bahasa Alquran.

Bangsa Arab menggunakan bahasa untuk mengungkapkan derajat yang tinggi dan luhur dengan kefasihan lidahnya dalam mengungkapkan bahasa. Bahasa  arab dipandang memiliki bahasa yang padat, efektif dan singkat yang akhirnya digunakan dalam Alquran sebagai bahasa mushaf resmi dan disepakati sampai sekarang. Di sinilah kemukjizatan dinilai, yaitu dari ungkapan bahasa yang digunakan.

Dalam perkembangannya, Bahasa Arab menyebar sampai ke luar jazirah Arab seiring dengan menyebarnya agama Islam. Selain itu, Bahasa Arab menjadi symbol nasionalisme Arab ketika Islam mulai menyebar ke berbagai wilayah. Dari berbagai suku dan kabilah, bahkan bangsa yang berbeda, kemudian disatukan oleh Bahasa Arab. Bahasa Arab dengan demikian menjadi identitas bangsa Arab. Inilah yang kemudian mendorong dirumuskannya bahasa Arab baku yang harus disepakati sebagai lingua franca.[24]

Sementara pada zaman keemasan peranan Bahasa Arab dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan begitu penting. Ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, yang pada akhirnya dari Bahasa Arab juga diterjemahkan ke dalam bahasa bangsa barat[25].  Bahasa Arab pada saat itu mampu mewakili bahasa yang dibutuhkan untuk ilmu pengetahuan dan peradaban yang besar.  Ini semakin mengangkat urgensi Bahasa Arab menjadi bahasa ilmiah dan jembatan ilmu pengetahuan, sekaligus membentuk watak kemajuan peradaban Arab dengan bahasanya sendiri. Ini tidak lepas juga dari spirit Islam yang telah ditanamkan oleh Nabi Muhamad SAW.  Bernard Lewis menyebut dengan dua buah sumbangan bagi kemajuan peradaban Arab; bahasa dan iman.[26] Namun seiring kemunduran peradaban Arab dengan jatuhnya wilayah – wilayah Arab ke bangsa lain, menandai pula kemunduran dalam bidang bahasa. Bahasa Arab yang menjadi tidak memadai lagi untuk mewakili bahasa ilmu pnegetahuan. Setidaknya inilah pendapat Khouri sebagaimana diungkapkan oleh Hazem Zaki Nuseibeh.[27] Dalam sebuah konferensi bahasa di dunia yang dieselnggarakan di Prancis bahkan Bahasa Arab hamper saja dirombak besar-besaran atas usulan beberapa ilmuwan barat, namun akhirnya usul ini tidak bias diterima oleh negara-negara Arab sendiri.[28]

 

 

  1. V.    Bahasa dan budaya dalam pengajaran bahasa Arab

Bahasa Arab masuk ke Indonesia seiring dengan masuknya Islam. Ini tidak bisa dipungkiri, karena dominasi keagamaan dalam berbahasa Arab sangat kuat.  Pesan -pesan moral keagamaan ( Islam )  tertulis dalam bahasa Arab. Dengan kata lain Bahasa Arab adalah bahasa Islam.

Dalam hal pengajaran bahasa secara umum, termasuk bahasa Arab untuk orang non-Arab, mengetahui budaya Arab merupakan hal yang lazim. Karena aspek bahasa bukan hanya makna saja tetapi hal yang melingkupi konteks bahasa itu sendiri.[29] Rusydi Ahmad Thu’aimah menyatakan bahwa bahasa adalah budaya. Kaitan ini sangat erat karena lewat bahasalah unsur-unsur budaya dapat terhubung dengan jalinan yang erat.[30] Sementara Albert Valdman mengemukakan bahwa untuk menjadi guru bahasa asing, aspek mengenai budaya harus dikuasai juga, selain penguasaan struktur bahasa itu sendiri.[31] Meskipun budaya dalam arti yang minimalis mungkin. Karena kalau harus mengetahui seluk-beluk budaya secara detail justru akan memerlukan waktu yang lama untuk mempelajarinya. Karena lewat bahasa itu sendiri, hakekatnya budaya sduah dipelajari.

Bahasa Arab diajarkan di Indoensia lebih dominant karena bahasa Arab merupakan bahasa Alquran dan Hadits. Oleh akrena itu yang nampak dalam pengajaran Bahasa Arab adalah bahwa mempelajarinya sekaligus mempelajari agama Islam. Dengan demikian sebetulnya mempelajari Bahasa Arab adalah mempelajari budaya Islam. Inilah yang mendasari pentingnya mengajarkan Bahasa Arab dalam kaitannya dengan pendidikan agama Islam.[32]

Di samping itu, pengajaran Bahasa Arab di Indonesia lebih mengacu kepada bahasa resmi yang dipakai oleh Negara-negara Arab[33]. Bahasa Arab resmi ini sering disebut  Bahasa Arab fusha. Bahasa Arab fusha sering dibedakan dengan Bahasa Arab ‘amiyah. Adapun penjelasannya sudah dibahas pada tulisan-tulisan terdahulu.

Ada satu usulan menarik dari  Muhbib Abdul Wahab, bahwa sekarang di sekolah-sekolah sudah seharusnya diajarkan bahasa amiyah juga kalau bahasa itu adalah alat komunikasi. Ini dengan asumsi bahwa dalam kenyataannya bahasa Arab fusha jarang dipakai kecuali dalam acara-acara resmi atau khotbah Jum’at. Hal ini juga didasari kenyataan bahwa saat ini di Arab sendiri ada fenomena pencampuran antara fusha dan amiyah yang beliau sebut fusamiyah..

Usulan ini sebetulnya realistis namun tentu harus dilihat secara jeli karena Bahasa Arab yang diajarkan sekarang di sekolah saja masih banyak persoalan yang belum selesai. Sehingga penambahan beban dengan materi baru justru bisa mengganggu proses yang sedang berjalan. Selain itu, pengajaran bahasa ‘amiyah akan terbawa dengan sendirinya jika memang dibutuhkan ketika akan menggunakannya di daerah tertentu. Menurut Muhamad Lutfi, di banyak negara berbahasa Arab, bahasa yang diajarkan tetaplah bahasa fusha[34].

Pada sekolah tertentu mungkin bisa, seperti di MAK atau di pesantren-pesantren modern. Tentu akan muncul persoalan baru lagi, karena ‘amiyah mana yang akan dipakai, mengingat ada 24 negara pengguna Bahasa Arab, yang dengan demikian juga ada 24 dialek dan turunannya.

Sedangkan Sayuti Nasution dalam Jurnal ‘Afaq ‘Arabiyah menjelaskan spesifikasi ideal seorang guru dari sisi standar budaya, yaitu:

  1. Memahami budaya Arab dan Islam, mengingat bahwa mengajarkan bahasa tidak bias dilakukan terpisah dari budaya yang melahirkan bahasa terserbut.
  2. Mampu mempelajari budaya Arab baik yang bersifat umum maupun khusus serta mengambil nilai-nilainya.
  3. Mampu berkreasi dan membuat kegiatan yang berguna untuk peningkatan pengajaran Bahasa Arab.
  4. Dapat menilai dan memahami budaya local, politik dan social di negara tempat dia mengajar/ bekerja.
  5. dapat membandingkan antara nilai-nilai budaya Arab dan budaya local
  6. Dapat menilai kegiatan yang bernialai budaya yang terjadi pada masyarakat
  7. lancer berbahasa local, dan mampu mengadakan study konstrastif dengan Bahasa Arab  baik dari sisi ungkapannya maupun dari sisi fonetisnya[35].

 

  1. VI.  Kesimpulan

Dengan demikian sangat jelas dari tulisan ini hubungan antara bahasa dan budaya. Dengan melihat bahwa bahasa adalah bagian dari budaya, maka hubungan ini sangat erat. Sehingga bagaimana kita berbahasa juga harus dilihat dalam kerangka bagaimana kita akan mengembangkan budaya kita. Ke arah peradaban yang seperti apa saat ini, maka semua bias terbaca lewat perkembangan bahasa itu sendiri.

Bahasa Arab yang berkembang selama ini adalah bahasa Islam, dengan demikian Bahasa Arab mencerminkan budaya Islam. Ini mengingat bahwa kitab suci Islam, Alquran dan Hadits, keduanya berbahasa Arab.

Bahasa Arab fusha adalah bahasa resmi yang digunakan dalam berbagai kesempatan. Oleh karena itu Bahasa Arab yang diajarkan di sekolah saat ini adalah Bahasa Arab fusha, namun memang tidak kemudian menutup diri pada perkembangan yang ada.

Penyampaian pelajaran bahasa Arab oleh orang Indonesia dalam banyak hal justru lebih baik daripada oleh pengajar asli sebagaimana dikemukakan di atas. Namun tentu harus memperhatikan agar bagaimana pengajaran itu juga menjadi baik dengan pendekatan dan metode yang harus terus di up date. Selain itu, konteks transformasi kebudayaan juga penting untuk diperhatikan dalam pengajaran bahasa ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abdul Karim Muhamad al As’ad, Al Wasît fi Târikh an Nahwi wal “arabiy,( Riyadh: Dar al Tsawwaf, 1337 H)

Abdul Khaer dan Leonia Agustina, Sosiolinguistik. ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004) cet I.

Abdul Khaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). Cet II.

Abdurrahman Wahid , Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Jakarta: Desantara, 2001)

Albert Valdman,  Trends in Language Teaching, (USA: Indiana University Press, 1966)

Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya,( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)

Bernard Lewis, Bangsa Arab Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta: Pedoman Ilmu jaya, 1988)

Edward Sapir, Language, ( Ottawa: Harc curt, Brace and World Inc, 1921)

Hajjah Bainar, dkk.. Ilmu Sosial, Budaya dan Kealaman Dasar,( Jenki Satria; Jakrta, 2006)

HAR. Tilaar,  Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia,( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999)

Hazem Zaki Nuseibeh, Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab, Terj. Soemantri Mertodipuro, ( Jakarta: Bhratara, 1969)

Mustapha Abdallah Bouchouk, Ta’lim wa ta’allum al Lughah al ‘Arabiyyah wa Tsaqafatuha, ( Rabat: Maktabah Dar al Aman, 1994)

Paul Chauvchard, Bahasa dan Pikiran, (Yogyakarta: Kanisius,  1983).

Philip K. Hitti, History Of The Arabs, terj. R. Cecep L. Yasin dan Dedi S. Riyadi. (Jakarta: Penerbit Serambi, 2006 ) cet ke-2

Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Alquran dan Hadits, ( Jakarta: Rajawali Press, 2002), cet ke-2

Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’lim al lughah al ‘Arabiyyah li Ghairi al Nathiqina biha; manahijuhu wa asalibuhu, (Rabat, 1989)

Samsuri, Analisa Bahasa; Memahami Bahasa Secara Ilmiah, (Jakarta: Penerbit Erlangga,  1974)

Stephen May, Langauge and Minority Rights, ( Longman, Printed in Malaysia, 2001)

Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, ( Jakarta: Rajawali Press, 2002), cet. Ke-34

Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Vol 4 ( PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993)

Virginia P Clark, ed, Language; Introductory readings, , ( New York: St. Martin’s Press, tt)

William B. Gudykunst, Stella Ting-Toomey, Elizabeth Chua, Culture and Interpersonal Communication, ( USA: Sage Publications India, 1988)

Zaki Hassamudin, al Lughah wa al Tsaqafah, (Kairo: Dar gharib. 2001)

 

Jurnal-Jurnal:

  1. 1.    Jurnal ‘Afaq ‘Arabiyyah, PBA FITK UIN Jakarta Vol 11  tahun  2007   
  2. 2.    Jurnal Al Turats, Vol. 9, No. 2, Juli 2003

 


[1] Mahasiswa SPs UIN Jakarta angkatan 2007, guru MTs NU Salam Magelang

 

[2] Abdul Khaer, Linguistik Umum, Rineka Cipta. Jakarta. Cet II. 2003. hlm. 32. dalam keterangan  sebelumnya dijelaskan bahwa banyak pakar yang mengedepankan fungsi dalam mendefinisikan bahasa.

[3] Kata sadar digunakan untuk membatasi bagi perkataan orang gila dan orang yang mengigau.

[4] Dalam beberapa literature digunakan istilah ini; dalam bahasa Inggris adalah culture, yang berasal dari bahasa Latin colere yang berarti mengolah sawah. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, ( Jakarta: Rajawali Press, 2002), cet. Ke-34, hlm. 171.  Sedangkan dalam bahasa Arab digunakan istilah  al Tsaqafah ( الثقافة ).lihat  Zaki Hassamudin, al Lughah wa al Tsaqafah, ( Kairo: Dar gharib, 2001) hal 51.

[5] Dalam buku-buku yang membahas kebudayaan, definisi kebudayaan sangat banyak sekali. Lebih dari 100 devinisi. Namun secara garis besar adalah tiga ranah tersebut. Lihat  misalnya Rohiman Notowidagdo, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Alquran dan Hadits, ( Jakarta: Rajawali Press, 2002), cet ke-2. h.25-35. HAR. Tilaar,  Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia,( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), h. 38-40

[6] Soerjono Soekanto, Sosiologi…hlm. 172

[7] Hajjah Bainar, dkk.. Ilmu Sosial, Budaya dan Kealaman Dasar,( Jakarta: Jenki Satria, 2006). H. 24-25

[8] Soerjono Soekanto, Sosiologi..hlm 176. unsur-unsur itu adalah (1)  Peralatan dan perlengkapan hidup manusia, (2) Mata pendaharian dan system ekonomi, (3) Sistem kemasyarakatan, (4) Bahasa, ( 5) Kesenian, (6) Sistem pengetahuan, (7) Religi.

[9] Abdul Khaer dan Leonia Agustina, Sosiolinguistik. ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004) cetI. h. 164-165

[10] Edward Sapir, Language, ( Ottawa: Harc curt, Brace and World Inc, 1921), hlm 219. pembahasan ini ada dalam judul Language, Race and Culture.

[11] Peter Wolfson dalam Language; Introductory readings, Virginia P Clark, ed, ( New York: St. Martin’s Press, tt), hlm.3

[12] Mustapha Abdallah Bouchouk, Ta’lim wa ta’allum al Lughah al ‘Arabiyyah wa Tsaqafatuha, ( Rabat: Maktabah Dar al Aman, 1994), h. 60.

[13] Di sini juga muncul pertanyaan lagi, kalau bahasa dan budaya bersifat sub ordinatif, lantas mana yang berada di atas ( main system ) dan mana yang berada di bawah ( sub system ). Para ahli menyatakan bahwa bahasalah yang menjadi sub sistemnya. Lihat Abdul Khaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik, …h. 165-6.

[14] Stephen May, Langauge and Minority Rights, ( Longman, Printed in Malaysia, 2001). H. 8

[15] Paul Chauvchard dalam pengantarnya, Bahasa dan Pikiran, (Jogjakarta : Kanisius, 1983).

[16] Perusahaan berlomba membuat ikon-ikon untuk produknya melalui bahasa yang terus-menerus ditanamkan, baik dalam iklan maupun merk produknya.

[17]  Zaki Hassamudin, al Lughah….h, 57

[18] Zaki Hassamudin, al Lughah….h. 58-59. selain bahasa sebagai unsure utama kebudayaan, masih ada unsure penting lainnya yang merupakan penyimbulan dari beberapa budaya seperti ekspresi seni, agama dll. Lihat Abdurrahman Wahid ,“Agama dan Tantangan  Kebudayaan”. Dalam Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Desantara, Jakarta, 2001). h.79-80.

[19] Istilah pembangunan sendiri sangat akrab pada masa orde baru sebagaimana masa buku ini disusun. Dengan demikian ini  masuk wilayah politik juga. Lihat Samsuri, Analisa Bahasa; Memahami Bahasa Secara Ilmiah, ( Penerbit Erlangga, Jakarta, 1974), h. 24-35.

[20] Darsita, Hubungan antara Bahasa dan Kebudayaan menurut Cara Pandang Strukturalisme Levi Strauss, Jurnal Al Turats, Vol. 9, No. 2, Juli 2003. hlm. 135

[21] Abdul Karim Muhamad al As’ad, Al Wasît fi Târikh an Nahwi wal “arabiy,( Riyadh: Dar al Tsawwaf, 1337 H), hlm. 17

[22] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, terj: Ghufron M. Mas’adi ( Jakarta: Rajawali Press, 1999), h. 138-139.

[23] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, terj. R. Cecep L. Yasin dan Dedi S. Riyadi. ( Penerbit Serambi, Jakarta, 2006 ) cet ke-2. h. 112

[24] Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Vol 4 ( PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993) h. 2-4

[25] Dalam sebuah kesempatan, Sayuti Nasution menyebut proses ini dengan re-eksport.

[26] Bernard Lewis, Bangsa Arab Dalam Lintasan Sejarah, (Pedoman Ilmu jaya, Jakarta, 1988), h. 136.

[27] Hazem Zaki Nuseibeh, Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab, Terj. Soemantri Mertodipuro, ( Jakarta: Bhratara, 1969)hlm 63-65.

[28] Hazem Zaki Nuzeibeh,  Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab, …hlm. 67-68

[29] Rusydi Ahmad Thu’aimah, Ta’lim al lughah al ‘Arabiyyah li Ghairi al Nathiqina biha; manahijuhu wa asalibuhu,Rabat, 1989, h. 18

[30] R. A. thu’aiumah, Ta’lim…….h.28

[31] Albert Valdman,  Trends in Language Teaching, (Indiana University Press, 1966, US), h. ix

[32] Dalam hal ini ada hadits terkenal yang menyatakan tentang urgensi mempelajari Bahasa  Arab karena tiga hal; (1) karena Nabi Muhamad dilahirkan di Arab, (2) karena Bahasa Alquran adalah Bahasa  Arab, (3) dan Bahasa ahli surga adalah Bahasa Arab.

 

[33] Negara-negara yang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Menurut Azhar Arsyad ada sekitar 24 negara, meliputi Asia dan Afrika.

[34] Disampaikan pada saat pertemuan kuliah pada tanggal 11 Juni 2008.

[35] A. Sayuti Nasution, Pengajaran Bahasa Asing; Antara Guru Dalam Negeri dan Guru Asing, Jurnal ‘Afaq ‘Arabiyyah, Vol. 1, No. 1, Juni 2006. hlm. 20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>